SUMBAWA BESAR, samawarea.com (30/4/2020)

Penularan virus corona atau Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah setiap harinya, fenomena tersebut berbanding terbalik dengan optimisme masyarakat Kabupaten Sumbawa yang menilai bahwa Covid-19 ini akan segera berakhir.

Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa Rea (IISBUD SAREA) kembali merilis hasil surveinya terkait Covid-19 yang menilai persepsi serta perilaku masyarakat Sumbawa dalam menghadapi Covid-19. Melalui Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat (LRPM) IISBUD SAREA menyampaikan hasil survei bertajuk “Persepsi dan Penilaian Masyarakat Kabupaten Sumbawa di Tengah Covid-19: Optimisme masyarakat, gerakan yang dilakukan, tingkat kekhawatiran, serta faktor pengaruh masyarakat”.

Survei dilakukan pada rentang pertengahan hingga akhir April 2020 dengan metode multistage random sampling, Margin of Error 4,6%, Tingkat kepercayaan 95%, dan mendapatkan 500 responden yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Sumbawa dengan persebaran jenis kelamin proporsional. Survei ini dilakukan untuk melihat tingkat optimisme masyarakat dalam memandang Covid-19 untuk segera berakhir dengan melihat kebijakan-kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat Sumbawa.

Hasil survei menunjukan, masyarakat menilai bahwa Covid-19 akan berakhir pada April 2020 sebesar 64.8%, Mei 2020 19.2%, Juni 2020 2.8%, Juli 2020 1.6%, Agustus 2020 2.2%, dan akan selesai pada akhir tahun 2020 sebesar 9.4%. Penilaian ini bukanlah penghitungan dasar atau skala kemungkinan berakhirnya Covid-19 di seluruh dunia, Indonesia, khususnya Sumbawa. Namun, pertanyaan ini muncul untuk melihat seberapa besar optimisme dengan usaha yang dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk turut serta dalam mengurangi tingkat penyebaran Covid-19. Rasa optimisme tersebut harus berbanding lurus dengan usaha-usaha seluruh elemen masyarakat.

Tingkat optimisme juga ditinjau dari penilaian masyarakat terhadap upaya-upaya yang dilakukan masyarakat di sekitar. Contohnya, publik menilai 79% masyarakat dan relawan sudah tepat melakukan aksi sosial seperti pembersihan, sosialisasi dan memberikan bantuan ke tengah masyarakat. Sisanya dianggap terlalu berlebihan seperti halnya menetapkan peraturan di tiap desa sebesar 9.4%, dalam hal ini misalnya menjaga pintu masuk desa yang dinilai terlalu berlebihan sehingga ada banyak aktivitas masyarakat yang terganggu, belum lagi para penjaga dianggap belum safety dalam mengawasi penyebaran Covid-19 dan 11.6% menganggap hal tersebut kurang tepat, karena masih banyak masyarakat yang melakukan penanganan tanpa edukasi sehingga beberapa masyarakat yang akhirnya takut, yang dibutuhkan oleh masyarakat juga adalah edukasi terkait Covid-19 ini.

Selain upaya masyarakat dan relawan, media juga diharapkan bisa menjadi garda terdepan untuk menyampaikan informasi terkait Covid-19, terutama informasi yang memberikan rasa optimisme kepada masyarakat. Publik menilai 34.4% dari mereka merasa sangat khawatir dan 51.8% khawatir dengan pemberitaan Covid-19 yang banyak memberitakan data yang positif terus bertambah, dan 13.8% tidak khawatir. Dari pemberitaan tersebut, masyarakat yang terpengaruh sebesar 57.6%, sangat terpengaruh 30.8%, dan kurang atau tidak terpengaruh 11.6%. Data ini menunjukkan semua elemen masyarakat harus bahu-membahu menangani Covid-19 ini dan saling mendukung, memberikan edukasi dan memberitakan berita-berita yang positif lainnya di tengah kasus pandemik yang semakin meningkat. Media sangat berperan dalam menenangkan masyarakat, selain itu masyarakat yang teredukasi juga diharapkan hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan informasi penanganan.

Di lain sisi, penyebaran informasi terkait Covid-19 yang semakin masif membuat sebagian masyarakat berubah perilakunya sehari-hari, terutama dalam kehidupan sosial. Masyarakat akhirnya banyak yang merasa khawatir dengan kesehatan dirinya, dari data hasil survei IISBUD Sarea yaitu 30.4% mengaku sangat khawatir, 60% khawatir dan tidak khawatir sebesar 9.6%. Temuan lainnya di dalam survei ini juga menunjukkan rasa kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga mereka cukup dominan, yaitu sangat khawatir 32.6%, khawatir 60.2%, tidak khawatir 7.2%. Dari data tersebut ditemukan fakta bahwa kekhawatiran masyarakat dengan keluarganya lebih tinggi dari kekhawatiran terhadap dirinya sendiri. Untuk itu, perlu ada pemahaman tiap masyarakat dalam berinteraksi dengan sesama. Temuan lainnya didalam survei ini menyebutkan bahwa jika ada orang datang bertamu, muncul kekhawatiran di tengah masyarakat. Publik menilai sangat khawatir 26.6%, khawatir 60.6%, tidak khawatir 12.2%. Data tersebut menunjukkan bahwa keadaan mengharuskan kita untuk tetap waspada, menjaga jarak dan tidak keluar rumah untuk hal-hal yang tidak terlalu penting sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. (SR)